menjadi orang lain
pernahkah kau membelah diri menjadi orang lain? ternyata sulit sekali. tubuh, diri, sosok. tetap satu. tapi kadang aku ingin punya kembaran yang lebih bebas menjalani hidup, manjakan cita, imajinasi, fantasi, impian
apa yang kucari? apa yang kudapat?
aku sendiri tak tahu apa yang kuburu. aku sendiri tak tahu apa yang kudapat. tapi bersamamu aku merasa senang. bahagia. damai.
harta? aku bukan wanita matre. meskipun aku belum mandiri sejauh ini papi mami masih bisa mengongkosi si parasit lajang ini.
ketampanan? kau akui kau tak ganteng tampan. aku pun setuju. tapi aku menyukaimu mas! kau gagah, tegap. dalam usia matangmu kau adalah suami yang baik, bapak yang baik. juga kekasih yang baik untuk pacar gelapmu.
mas jawa
orang jawa. bukan orang asing bagiku. opa oma tinggal di jawa tengah di mana sebagai pedagang mereka banyak bergaul dengan orang jawa. papi dan mami juga begitu. banyak teman jawanya. tapi di sini, jakarta ini, aku jarang bergaul dengan orang jawa. mereka adalah orang asing. baik, bisa berteman, tapi tak sampai akrab. teman-teman heran kenapa aku akhirnya bisa kopdar dan dekat dengan mas. padahal kata mereka mas bukan satpam, bukan sopir, bukan guru les, ah bukan apapun yang pokoknya menurutku menghina. aku dan keluargaku bukanlah rasis, tapi di kota ini kami jarang bergaul dengan orang jawa, bahkan tetanggaku pun tiada yang jawa. di tk, sd, smp, sma, kuliah, sedikit teman jawaku. tidak bermusuhan tapi tak pernah akrab dekat. lalu hadirlah mas dalam kehidupan dewasaku sebagai wanita dan makhluk sosial. tapi misalkan mas masih muda, lajang, apakah aku berani terang terangan kencan denganmu di mal radius rumahku? menjadi berbeda dari yang lazim itu butuh mental yang kuat ternyata. apalagi aku hanya kekasih gelapmu mas.
“kamu cantik”
aku tahu aku cantik tapi itu bukan alasan untuk sombongkan diri. memang terlalu sering kudapat pujian. agency tempat aku jadi spg dan fotografer majalah remaja yang memotretku juga sebut begitu. stylist di majalah juga katakan itu. aku berterima kasih untuk semua itu.
tapi ketika kau yang katakan ketika kita pertama kali kopdar, aku tergetar. ada semburat ge er. seperti terbanting ke masa remaja ketika aku kelas dua smp ditembak dan dikatakan cantik oleh anak nakal lucu itu.
kamu cantik, katamu.
punya pesona oriental, ucapmu.
mata sipitmu tak usah diberi selotip, candamu.
putih kulitmu aku suka, ungkapmu.
pertahankan langsingmu, pintamu.
oh dunia! kenapa kalau yang ucapkan itu mas sendiri semua menjadi berbeda dari apa yang pernah kudengar?